Selasa, 23 April 2019

Mengambil Hikmah dalam Perjuangan Menutup Lokalisasi Dolly


 LAPORAN KULIAH LAPANGAN
“DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTERPRENEURSHIP”
Di Eks Lokalisasi Dolly
SURABAYA, 13 APRIL 2019

A.     Waktu dan Tempat
Hari /Tanggal Pelaksanaan    : Sabtu,13 April 2019
Waktu Pelaksanaan               : 08.00 – 14.00
Tempat Pelaksanaan             : Masjid At-Taubah
                                                Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya

B.     Peserta
Peserta kuliah lapangan ini adalah mahasiswa prodi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) semester 2 fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.

C.     Penyampaian Materi Narasumber
          Dolly merupakan salah satu tempat lokalisasi yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur yang terletak di kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan. Pada pertengahan bulan juni 2014 Walikota Surabaya, Tri Risma Harini mengambil kebijakan untuk menutup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tersebut. Jelas ada pro dan kontra dengan penutupan Gang Dolly, Misalnya saja dengan para pencari rezeki di Gang Dolly yang sangat menolak keputusan Walikota Surabaya untuk menutup lokalisasi tersebut. Bukan hanya PSK saja yang memperoleh hasil dari Gang Dolly tetapi ada berbagai macam profesi, Contohnya pencuci baju, PKL, salon, tukang parkir, becak dan lain-lain.
          Munculnya pengangguran baru yang setelah terjadi penutupan dan itu akan menimbulkan masalah baru di kota Surabaya. Karena kehidupan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar komplek pelacuran Dolly dan Jarak menilai, penutupan ini bakal membuat hidup ribuan warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara. Masyarakat eks Dolly Gang Dolly di anggap sebagai masyarakat pusat perekonomian. Jika menutup Dolly sama dengan mematikan perekonomian ribuan masyarakat di sekitarnya. Karena Dolly ini juga menjadi putaran perekonomian yang menanggung ribuan orang di sekitar. Sejak pemerintah menutup lokalisasi Dolly suasana malam tak seramai seperti biasanya. Biasanya terlihat puluhan makelar seolah tumpah ke Gang Dolly dan jalan sekitarnya. Dulu biasa terdengar suara music bersaut sautan antara wisma satu dengan wisma lain. Dengan mulainya music dangdut sampai music disko. Banyak perubahan yang terjadi di Dolly yang tentu saja menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitarnya yang mengandalkan perekonomiannya di lokalisasi Dolly. Kini masyarakat tersebut beralih profesi sesuai dengan kondisi yang saat ini. Seperti yag dulu ia bekerja sebagai mucikari kini beralih menjadi pemilik kos, yang dulu ia bekerja sebagai pemilik salon sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, yang dulu ia bekerja sebagai toko kelontong sekarang membuka warung kopi (giras), dulu ia sebagai pemilik wisma sekarang membuka laundry, yang dulu ia sebagai mucikari kini beralih dengan membuka taman baca di rumahnya. Tempat yang dulu di jadikan warung makan sekarang berubah mejadi jual servise sound, dulu sebagai rumah bordil atau wisma sekarang di jadikan tempat futsal oleh pemerintah, wisma yang terkenal dengan 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal sepatu kulit.
          Berbagai argumen penutupan Dolly ini akan mengakibatkan kehilangan pekerjaan dan pendapatan bukan hanya bagi para PSK, tetapi juga para germo, pemilik rumah sewa, pedagang, tukang parkir, penjaga keamanan, buruh cuci baju dan sebagainya yang jumlahnya ribuan. Jika mereka adalah tulang punggung keluarga dengan tanggungan rata-rata dua orang, maka ada sejumlah dua kali lipat lagi orang yang akan dirugikan. Sebuah angka yang tidak sedikit di tengah sulitnya menciptakan lapangan kerja dan susahnya perekonomian.
          Penutupan Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Hingga menjelang penutupan, PSK yang mengambil dana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih laku.
          Pemerintah telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu terangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain. Wali kota Surabaya hanya memberikan bentuk latihan seperti skill membuat kue kerring, salon, menjahit dan border. Hal ini juga di ungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks Dolly ini memerlukan waktu yang singkat hanya 3 hari. Tidak semua orang langsung bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
          Dolly dapat dikatakan sebagai lokalisasi yang diawasi dan dijaga oleh pemerintah. Nama Dolly ini sebenarnya hanya sebuah gang di jalan Kupang Timur 1. Prostitusi yang di luar bergabung dengan nama Dolly sehingga prostitusi ini menjadi terbesar se Asia. Bahkan mengalahkan Patpong di Bangkong, Thailand dan Geyland Singapore. Awal pendiriannya papi Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu ternyata pelayanan para gadis asuhan papi Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
          Menurut Tjahjo Purnomo dan Siregar (1982), semula kawasan Dolly adalah pekuburan Tionghoa. Pada tahun 1967, Dolly Khavit, seorang perempuan yang konon bekas PSK membuka usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly. Hal ini juga di katakan oleh mantan mucikari bahwa adanya lokalisasi ini bukan dari papi Dolly melainkan dari daerah cemoro sewu yaitu ada satu tempat namanya warung remang – remang. Sebelum jadi lokalisasi daerah Dolly semuanya adalah pemakaman cina meliputi daerah Girilayana sekarang hingga batas makam Islam di daerah putat Jaya sampai tembus ke cemoro sewu lanjut ke daerah simo. Pemakaman cina tersebut tadi hanya di ratakan saja tidak di bongkar kemudian di bangun rumah. Tetapi rata –rata pemakaman tersebut di pindah oleh keluarganya sendiri, kebanyakan masa kontraknya sudah habis. Biasanya kalau pemakaman cina ngontrak 50 tahun Kemudian muncul lah wisma wisma yang di mulai dari sisi jalan sebelah barat, yang kemudian merambat ke sisi timur. Wisma pertama kali milik papi Dolly. Di daerah lokalisasi ini tidak hanya wisma tetapi ada yang rumah tangga biasa, ada tempat untuk orang ngontrak dalam sekotak kotak artinya di batasi dengan sebuah triplek, toko, warung giras, dan penjual makanan atau warung.
          Dolly dapat dikatakan sebagai lokalisasi yang diawasi dan dijaga oleh pemerintah. Nama Dolly ini sebenarnya hanya sebuah gang di jalan Kupang Timur 1. Prostitusi yang di luar bergabung dengan nama Dolly sehingga prostitusi ini menjadi terbesar se Asia. Bahkan mengalahkan Patpong di Bangkong, Thailand dan Geyland Singapore. Awal pendiriannya papi Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu ternyata pelayanan para gadis asuhan papi Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
          Menurut Tjahjo Purnomo dan Siregar (1982), semula kawasan Dolly adalah pekuburan Tionghoa. Pada tahun 1967, Dolly Khavit, seorang perempuan yang konon bekas PSK membuka usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly.7 Hal ini juga di katakan oleh mantan mucikari bahwa adanya lokalisasi ini bukan dari papi Dolly melainkan dari daerah cemoro sewu yaitu ada satu tempat namanya warung remang – remang. Sebelum jadi lokalisasi daerah Dolly semuanya adalah pemakaman cina meliputi daerah Girilayana sekarang hingga batas makam Islam di daerah putat Jaya sampai tembus ke cemoro sewu lanjut ke daerah simo. Pemakaman cina tersebut tadi hanya di ratakan saja tidak di bongkar kemudian di bangun rumah. Tetapi rata –rata pemakaman tersebut di pindah oleh keluarganya sendiri, kebanyakan masa kontraknya sudah habis. Biasanya kalau pemakaman cina ngontrak 50 tahun Kemudian muncul lah wisma wisma yang di mulai dari sisi jalan sebelah barat, yang kemudian merambat ke sisi timur. Wisma pertama kali milik papi Dolly. Di daerah lokalisasi ini tidak hanya wisma tetapi ada yang rumah tangga biasa, ada tempat untuk orang ngontrak dalam sekotak kotak artinya di batasi dengan sebuah triplek, toko, warung giras, dan penjual makanan atau warung.
          Ditunjukkan bahwa telah banyak yang meneliti terkait penutupan Dolly dan penutupan lokalisasi di daerah lain. Perubahan sosial yang ada di lingkungan masyarakat sekitar lokalisasi pasti terjadi. Hal ini juga termasuk perubahan atau pergeseran okupasi yang terjadi di lokalisasi Dolly. Sebagai tempat lokalisasi Dolly terbesar se-Asia Tenggara hal ini tentu merubah okupasi yang dimiliki banyak pihak. Utamanya pihak-pihak yang memang memiliki profesi di sekitar lokalisasi tersebut baik yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung. Pergeseran ini termasuk bagian dari perubahan sosial yang kemudian dalam kajian ini akan menunjukkan bagaimana perubahan sosial yang terjadi dan juga dampak yang muncul akibat adanya penutupan lokalisasi Dolly. Dampak ini juga berkaitan langsung baik secara personal maupun tidak, utamanya yang terkait dengan okupasinya.

          Sambutan sambutan oleh ustadz Ngadimen Wahab selaku takmir masjid at-taubah dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag selaku dosen mata kuliah ilmu dakwah.
1.      Sambutan pertama Ust. Ngadimen Wahab (Pak Petruk) sebagai takmir Masjid At-Taubah.
        Sejarah mengenai Masjid At-Taubah, dahulu tahun 1987 ini adalah sebuah mushola. Dengan bertambahnya jama’ah mushola ini dirubah menjadi masjid. Pada 17 februari 1989 tepat khutbah pertama disampaikan dimasjid At-Taubah. Tahun 1990 pak petruk dituakan oleh masyarakat karena dapat menyembuhkan orang orang sakit. Tahun 1970 sejak mondok pak petruk  dipercaya kyai di pondok beliau untuk mendoakan. Pak Petruk bersyukur dikarenakan dapat berdakwah melalui pengobatan. Pak Petruk telah bergabung dengan dinas sosial yang disebut FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat) sejak tahun 2008. Sekitar tahun 2008 pula, terdapat 53 lebih wisma dengan kurang lebih 5600 WTS (Wanita Tuna Susila). Pak Petruk yakin dalam surah Al mukmin : 60 yang berbunyi “ud’uni astajib lakum”, artinya:  Berdoalah padaku, maka niscaya akan kukabulkan. Setelah 24 tahun berdakwah Alhamdulillah pada tahun 2014 lokalisasi Dolly yang terkenal sebagai lokalisasi terbesar di asia tenggara telah resmi ditutup oleh walikota Surabaya ibu Tri Risma Harini pada kisaran bulan juni. “Semua ini terjadi atas kehendak Allah” ujar pak Petruk. Pak petruk tak pernah lepas untuk berdoa dan berikhtiar, bahkan setiap selasa malam rabu beliau mengajak jamaah untuk membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 kali. Berjuang yang paling pentinga dan nomer satu adalah keihklasan dijalan Allah SWT. Semoga dengan adanya kegiatan ini akan semakin memacu dan memotivasi mahasiswa untuk menjadikan bangsa Indonesia iman,takwa kepada Allah SWT.
2.      Sambutan kedua oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag sebagai Dosen Ilmu Dakwah.
          Saat ini tidak ada perempuan perempuan seperti yang dulu lagi, tetapi bagaimana cara untuk menyemangati mereka para penduduk yang mengandalkan tempat ini sebagai lapak dagang agar tidak sedih. Karena dahulu tempat ini ramai sekarang menjadi sepi. Diharapkan masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai penggerak ekonomi. Dalam berdakwah ditempat ini tidak cukup menggunakan dakwah bii lisan, namun dibutuhkan pendekatan.
           
          Materi materi yang disampaikan oleh beberapa narasumber dari IDIAL MUI Jatim, Owner PT. Berkah Aneka Laut, dan mantan preman lokalisasi.

1.      Narasumber pertama oleh H. Sunarto Sholahudin selaku Owner PT. Berkah Aneka laut (Bendahara Masjid Nurul Fatah)
BISNIS DAKWAH DAN IBADAH
          Bapak H. Sunarto Sholahudin merupakan bendahara masjid Nurul Fatttah sekaligus pengusaha sukses pemilik perusahaan PT. Berkah Aneka Laut. Saat ini sudah memiliki perusahaan perikanan laut berkualitas internasional dan memiliki sekitar 50 kapal yang terletak di kota Probolinggo dan berpusat disurabaya, Jawa Timur. Beliau inilah yang menjadi donator besar yang membantu memberikan uang uang untuk menunjang perekonomian warga dolly dengan merubah bangunan bangunan wisma menjadi tempat yang bisa digunakan untuk membuka usaha warga pascaa penutupan lokalisasi dolly.
          Perjalanan terjal meraih kesuksesan telah dilalui oleh  beliau. Beliau percaya “Siapa yang bersungguh sungguh pasti akan mendapatkannya (sukses)”. Berawal dari sebuah desa kecil ketika beliau masih mengginjak bangku sekolah dasar tanpa malu dan rendah diri menjual gorengan berkeliling desa. Karena himpitan ekonomi yang semakin menjadi, akhirnya beliau memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Melihat dari kegigihan almarhum kedua orang tua beliau semakin memicu semangat untuk bangkit meraih mimpi besarnya dikota Surabaya menjadi seorang pengusaha yang sukses. Pesan terus belajar menjadi pemimpin yang tegas jangan mudah berputus asa dan mengeluh temui hal hal yang baru dari kehidupan. Kejujuran dalam setiap perkataan adalah modal pertama dalam meraih kesuksesan.
2.      Narasumber kedua oleh Dr. H. A. Sunarto AS, MEI selaku Doktor prostitusi IDIAL MUI Jawa Timur.
          Rumah di jalan Lasem 30-A itu terlihat sederhana. Begitu pula penghuninya, sama sekali tak menonjolkan kemewahan. Padahal di balik hidup sederhana yang dijalani bersama keluarganya, si pemilik rumah kelahiran 1959 itu salah satu pejuang pembebasan prostitusi di lokalisasi Bangunsari Surabaya.
Dialah Dr H Sunarto AS M.E.I ketua umum ikatan da’i area lokalisasi (idial), wadah para da’I dalam naungan Majelis Ulama’ Indonesia Jatim yang menjadi garda terdepan dalam pembebasan area lokalisasi di Jawa Timur.
          Pak Sunarto mengawali kegiatan dakwah di lokalisasi, khusunya Bangunsari pada 1981, setahun sepulangnya belajar dari Ponpes Tebu Ireng atau ketika masuk IAIN tingkat satu. Di awali ketika diserahi H Sholeh Piarin, salah satu tokoh di Bangunsari saat itu. “ Saya ngrintis ngajar ngaji saat menjadi ketua karang taruna di Jalan Lasem tingkat RT” Kenangnya.
          Hampir dua tahun Sunarto berdakwah sendirian di Bangunsari. Baru pada 1983-1985 dia mendapat pertner dari Kiai Khoiron yang merupakan kakak kelasnya di Tebuireng. Di Bangunsari pengajian rutin digelar setiap jum’at dan dirintis sejak tahun 80-an. Namun sejak 2007-2008, dinas sosial mengajak kerjasama. Mereka memprogramkan tak hanya di Bangunsari tapi di seluruh lokalisasi di Surabaya.
          Beliau  menyampaikan dakwah ada 3 yaitu menyeru, mengajak dan merubah. Yang beliau gunakan dengan narasumber yang lain adalah dakwah dengan metode merubah. Pada tahun 2002 beliau masih berdakwah secara individu yaitu terhadap beberapa WTS di gedung RW. Kemudian meningkat menjadi 20 perwakilan WTS dari beberapa lokalisasi di Surabaya yang dilaksanakan di asrama haji selama bulan ramadhan.
3.      Narasumber ketiga oleh KH. Drs. Khoiron Syuaib selaku Kiai Prostitusi IDIAL MUI Jawa Timur.
          Kiai Khoiron begitulah masyarakat menyebutnya merupakan Kiai Prostitusi terkenal di Surabaya. Kiai Khoiron adalah anak dari pasangan Syu’aib bin Kia Asim dan Hj. Muntayyah binti kiai Mu’assan. Kiai Khoiron bukanlah warga asli Dupak melainkan seorang pendatang. Kedua orangtuanya dulu tinggal di jalan Maspati Gang IV Surabaya, disana orangtuanya membuka usahah makanan. Karena hasilnya selalu tak cukup untuk memnuhi kebutuhan hidup, orangtua kiai Khoiron pindah di kelurahan Dupak, Bangunsari, Surabaya. Ditempat inilah kiai Khoiron dibesarkan.
          Orangtua kiai Khoiron tak ingin anaknya tumbuh di tempat prostitusi. Karena itu ia dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Kemudian Kiai Khoiron melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah mendapat banyak ilmu agama, kiai Khoiron pulang kampung. Maraknya prostitusi di Dupak Bangunsari  ia menjadi prihatin dengan kondisi kampungnya, karena itu ia berdakwah di tempat lokalisasi meski awalnya sempat pesimis. Beliau lantas menjadi buah bibir masyarakat Kota Surabaya karena berdakwah di tempat-tempat lokalisasi.
          Berkat kegigihannya, dakwahnya mulai diterima kalangan PSK. Ia kemudian mendirikan sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat dakwah. Seiring berjalannya waktu, Kiai Khoiron sampai dikenal sebagai “ Kiai nya para WTS dan Mucikari ”. Mendapat sebutan itu, kiai khoiron tidak mempersoalkannya. Beliau inilah yang juga membantu Ustad Gatot mantan preman untuk berhijrah.
          Kiai Khoiron Syuaib menyampaikan 4 faktor peranan di lokalisasi dolly yang sangant berpengaruh :
a.       PSK atau WTS
b.      Mucikari
c.       Ketua RT/RW
d.      Orang orang baik didaerah lokalisasi
4.      Narasumber keempat oleh H. Gatot Subiantoro selaku  Mantan Preman Lokalisasi dan IDIAL MUI Jatim
          Bapak H. Gatot Subiantoro yang biasa dikenal dengan Gatot/ pak Gatot merupakan bagian HUMAS IDEAL MUI Jatim yang dulunya merupakan seorang Preman lokalisasi di Dolly. Sebagai preman tak sulit baginya untuk mengumpulkan uang banyak. Apalagi di lokalisasi Dolly ia dikenal sebagai preman yang mempunyai pengaruh besar. “ Kalau masalah uang itu dating sendiri dari hiburan malam waktu itu, kana da yang pegang sendiri masing-masing blok dan kalau ada yang membuat rusuh saya yang terjun. Satu tempat hiburan bayarannya bulanan ada juga yang mingguan/ harian dan banyak yang saya pegang tempat hiburan di lokalisasi” ujarnya.
          Pak Gatot menggeluti dunia preman sejak 1984 dan sudah kurang lebih 20 tahun menjadi preman ia tidak pernah kepikiran untuk hijrah karena ia sudah putus asa waktu melamar kerja setelah lulus SMA kemana mana tidak diterima, sudah mengikuti berbagai tes dimanapun bahkan juga di beberapa Perguruan Tinggi tapi tetap saja tidak ada yang menerimanya padahal pak Gatot mempunyai nilai yang cukup tinggi kala itu. Akhirnya beliau ikut-ikutan temannya nongkrong dan minum-minum hingga akhirnya ia menjadi preman jalanan dari satu lokalisasi ke lokalisasi yang lain. Keluarga nya pun sebenarnya sudah jenuh melihat ulah Pak Gatot tetapi tidak ada hal lagi yang dapat merubahnya.
          Hingga pada akhirnya Pak Gatot bertemu dengan orang-orang yang tulus memandangnya sebelumnya semua orang mencemoohnya  “ Di bilang saya mencela dan menghina padahal saya tidak pernah maling atau merampok punya dia” ujar pak Gatot dengan logat Surabaya nya yang khas. Tepatnya pada tahun 2001, pak Gatot mendapat hidayah untuk bertaubat. Wasilah taubat ini dating dari seorang da’I bernama Khoiron Syu’aib, yang terkenal di Surabaya sebagai da’I spesialis daerah prostitusi.
          “ Saya ingat ketika itu Kiai Khoiron dating saat saya sedang mabuk, beliau datang tidak untuk menceramahi saya, tapi justru membawa sebungkus berkat (makanan)” ungkap pak Gatot. Pendekatan halus yang dilakukan Kiai Khoiron Syu’aib akhirnya membuatnya luluh, karena ia merasa bosan selalu di kasih berkat (makanan) oleh kiai khoiron. “ Lama-lama saya merasa kok saya dikasih berkat terus terusan saya jadi mblenger (bosan)” tegasnya sambil tertawa. Perlahan tapi pasti akhirnya pak Gatot  mulai meninggalkan dunia kemaksiatannya.
          Dari pengalamannya sebagai preman yang mendapat hidayah, pak Gatot berpesan bahwa pergaulan dapat menentukan baik buruknya seseorang “ Bergaul dengan orang baik kita ketularan baik, begitu juga sebaliknya” katanya.beliau juga selalu mengingat pesan dari Kiai khoiron bahwa kekayaan dan kemiskinan tiada habisnya tetapi umur kita ada habisnya yang menjadi motto hidupnya sampai saat ini. Setelah keluar dari dunia maksiat ia sempat bekerja di sebuah showroom jual beli mobil di Surabaya sampai pada akhirnya ia di angkat bekerja di MUI Jatim masyaallah.

D.    Kesan pesan mengikuti kuiah lapangan
1.  Alhamdulillah dengan mengikuti kuliah lapangan ini saya bisa mengetahui perjuangan untuk menutuo dolly.
2.    Saya mengetahui dunia bisnis dan perjuangan keras dari H. Sunarto Sholahudin yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi saya.
3.  Dapat mengetahui metode dakwah yang digunakan untuk mengajak menjadi yang lebih baik.
4.     Dapat megenal para mubaligh pejuang yang banyak berkontribusi pada dolly.
5.     Ilmu dan pelajaran hidup yang banyak untuk bekal saya nanti.

DOKUMENTASI KEGIATAN








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengambil Hikmah dalam Perjuangan Menutup Lokalisasi Dolly

  LAPORAN KULIAH LAPANGAN “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTERPRENEURSHIP” Di Eks Lokalisasi Dolly SURABAYA, 13 APRIL 2019 A.      Wak...