LAPORAN KULIAH LAPANGAN
“DAKWAH
KONTEMPORER DAN ENTERPRENEURSHIP”
Di Eks
Lokalisasi Dolly
A. Waktu dan Tempat
Hari /Tanggal Pelaksanaan : Sabtu,13 April 2019
Waktu Pelaksanaan : 08.00 – 14.00
Tempat Pelaksanaan : Masjid At-Taubah
Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya
B. Peserta
Peserta kuliah lapangan ini adalah mahasiswa
prodi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) semester 2 fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya.
C. Penyampaian Materi Narasumber
Dolly
merupakan salah satu tempat lokalisasi yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur
yang terletak di kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan. Pada pertengahan bulan
juni 2014 Walikota Surabaya, Tri Risma Harini mengambil kebijakan untuk menutup
lokalisasi terbesar di Asia Tenggara tersebut. Jelas ada pro dan kontra dengan
penutupan Gang Dolly, Misalnya saja dengan para pencari rezeki di Gang Dolly
yang sangat menolak keputusan Walikota Surabaya untuk menutup lokalisasi
tersebut. Bukan hanya PSK saja yang memperoleh hasil dari Gang Dolly tetapi ada
berbagai macam profesi, Contohnya pencuci baju, PKL, salon, tukang parkir,
becak dan lain-lain.
Munculnya
pengangguran baru yang setelah terjadi penutupan dan itu akan menimbulkan
masalah baru di kota Surabaya. Karena kehidupan di Dolly tidak terbatas pada
aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada
berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar komplek pelacuran Dolly dan
Jarak menilai, penutupan ini bakal membuat hidup ribuan warga yang bergantung pada
perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara. Masyarakat eks Dolly Gang Dolly
di anggap sebagai masyarakat pusat perekonomian. Jika menutup Dolly sama dengan
mematikan perekonomian ribuan masyarakat di sekitarnya. Karena Dolly ini juga
menjadi putaran perekonomian yang menanggung ribuan orang di sekitar. Sejak pemerintah menutup lokalisasi Dolly suasana
malam tak seramai seperti biasanya. Biasanya terlihat puluhan makelar seolah
tumpah ke Gang Dolly dan jalan sekitarnya. Dulu biasa terdengar suara music
bersaut sautan antara wisma satu dengan wisma lain. Dengan mulainya music
dangdut sampai music disko. Banyak perubahan yang terjadi di Dolly yang tentu
saja menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitarnya yang mengandalkan perekonomiannya
di lokalisasi Dolly. Kini masyarakat tersebut beralih profesi sesuai dengan
kondisi yang saat ini. Seperti yag dulu ia bekerja sebagai mucikari kini
beralih menjadi pemilik kos, yang dulu ia bekerja sebagai pemilik salon
sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, yang dulu ia bekerja sebagai
toko kelontong sekarang membuka warung kopi (giras), dulu ia sebagai pemilik
wisma sekarang membuka laundry, yang dulu ia sebagai mucikari kini beralih
dengan membuka taman baca di rumahnya. Tempat yang dulu di jadikan warung makan
sekarang berubah mejadi jual servise sound, dulu sebagai rumah bordil atau
wisma sekarang di jadikan tempat futsal oleh pemerintah, wisma yang terkenal
dengan 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal sepatu
kulit.
Berbagai
argumen penutupan Dolly ini akan mengakibatkan kehilangan pekerjaan dan
pendapatan bukan hanya bagi para PSK, tetapi juga para germo, pemilik rumah
sewa, pedagang, tukang parkir, penjaga keamanan, buruh cuci baju dan sebagainya
yang jumlahnya ribuan. Jika mereka adalah tulang punggung keluarga dengan
tanggungan rata-rata dua orang, maka ada sejumlah dua kali lipat lagi orang
yang akan dirugikan. Sebuah angka yang tidak sedikit di tengah sulitnya
menciptakan lapangan kerja dan susahnya perekonomian.
Penutupan
Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Hingga menjelang
penutupan, PSK yang mengambil dana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan
mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi lima
PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah
mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini
menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih
laku.
Pemerintah
telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp 5 juta tetapi
tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima
pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai
PSK lalu terangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum
tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat
berdampak pada pelacuran di tempat lain. Wali kota Surabaya hanya memberikan
bentuk latihan seperti skill membuat kue kerring, salon, menjahit dan border.
Hal ini juga di ungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan
pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks Dolly ini memerlukan waktu
yang singkat hanya 3 hari. Tidak semua orang langsung bisa, pada dasarnya
masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
Dolly
dapat dikatakan sebagai lokalisasi yang diawasi dan dijaga oleh pemerintah.
Nama Dolly ini sebenarnya hanya sebuah gang di jalan Kupang Timur 1. Prostitusi
yang di luar bergabung dengan nama Dolly sehingga prostitusi ini menjadi
terbesar se Asia. Bahkan mengalahkan Patpong di Bangkong, Thailand dan Geyland
Singapore. Awal pendiriannya papi Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk
menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan para tentara Belanda. Seiring
berjalannya waktu ternyata pelayanan para gadis asuhan papi Dolly tersebut
mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Menurut
Tjahjo Purnomo dan Siregar (1982), semula kawasan Dolly adalah pekuburan
Tionghoa. Pada tahun 1967, Dolly Khavit, seorang perempuan yang konon bekas PSK
membuka usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan
membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di
awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly. Hal ini
juga di katakan oleh mantan mucikari bahwa adanya lokalisasi ini bukan dari
papi Dolly melainkan dari daerah cemoro sewu yaitu ada satu tempat namanya
warung remang – remang. Sebelum jadi lokalisasi daerah Dolly semuanya adalah pemakaman
cina meliputi daerah Girilayana sekarang hingga batas makam Islam di daerah
putat Jaya sampai tembus ke cemoro sewu lanjut ke daerah simo. Pemakaman cina
tersebut tadi hanya di ratakan saja tidak di bongkar kemudian di bangun rumah.
Tetapi rata –rata pemakaman tersebut di pindah oleh keluarganya sendiri,
kebanyakan masa kontraknya sudah habis. Biasanya kalau pemakaman cina ngontrak
50 tahun Kemudian muncul lah wisma wisma yang di mulai dari sisi jalan sebelah
barat, yang kemudian merambat ke sisi timur. Wisma pertama kali milik papi
Dolly. Di daerah lokalisasi ini tidak hanya wisma tetapi ada yang rumah tangga
biasa, ada tempat untuk orang ngontrak dalam sekotak kotak artinya di batasi
dengan sebuah triplek, toko, warung giras, dan penjual makanan atau warung.
Dolly
dapat dikatakan sebagai lokalisasi yang diawasi dan dijaga oleh pemerintah.
Nama Dolly ini sebenarnya hanya sebuah gang di jalan Kupang Timur 1. Prostitusi
yang di luar bergabung dengan nama Dolly sehingga prostitusi ini menjadi
terbesar se Asia. Bahkan mengalahkan Patpong di Bangkong, Thailand dan Geyland
Singapore. Awal pendiriannya papi Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk
menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan para tentara Belanda.
Seiring berjalannya waktu ternyata pelayanan para gadis asuhan papi Dolly
tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali.
Menurut
Tjahjo Purnomo dan Siregar (1982), semula kawasan Dolly adalah pekuburan
Tionghoa. Pada tahun 1967, Dolly Khavit, seorang perempuan yang konon bekas PSK
membuka usaha pelacuran. Ia mengangkat mucikari dari Kampung Cemoro Sewu dan
membangun wisma bernama Barbara. Setelah itu, muncul wisma lain dan akhirnya di
awal tahun 1970-an perkampungan itu berubah nama menjadi Gang Dolly.7 Hal ini juga
di katakan oleh mantan mucikari bahwa adanya lokalisasi ini bukan dari papi
Dolly melainkan dari daerah cemoro sewu yaitu ada satu tempat namanya warung
remang – remang. Sebelum jadi lokalisasi daerah Dolly semuanya adalah pemakaman
cina meliputi daerah Girilayana sekarang hingga batas makam Islam di daerah
putat Jaya sampai tembus ke cemoro sewu lanjut ke daerah simo. Pemakaman cina
tersebut tadi hanya di ratakan saja tidak di bongkar kemudian di bangun rumah.
Tetapi rata –rata pemakaman tersebut di pindah oleh keluarganya sendiri,
kebanyakan masa kontraknya sudah habis. Biasanya kalau pemakaman cina ngontrak
50 tahun Kemudian muncul lah wisma wisma yang di mulai dari sisi jalan sebelah
barat, yang kemudian merambat ke sisi timur. Wisma pertama kali milik papi
Dolly. Di daerah lokalisasi ini tidak hanya wisma tetapi ada yang rumah tangga
biasa, ada tempat untuk orang ngontrak dalam sekotak kotak artinya di batasi
dengan sebuah triplek, toko, warung giras, dan penjual makanan atau warung.
Ditunjukkan
bahwa telah banyak yang meneliti terkait penutupan Dolly dan penutupan
lokalisasi di daerah lain. Perubahan sosial yang ada di lingkungan masyarakat
sekitar lokalisasi pasti terjadi. Hal ini juga termasuk perubahan atau
pergeseran okupasi yang terjadi di lokalisasi Dolly. Sebagai tempat lokalisasi
Dolly terbesar se-Asia Tenggara hal ini tentu merubah okupasi yang dimiliki
banyak pihak. Utamanya pihak-pihak yang memang memiliki profesi di sekitar
lokalisasi tersebut baik yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung.
Pergeseran ini termasuk bagian dari perubahan sosial yang kemudian dalam kajian
ini akan menunjukkan bagaimana perubahan sosial yang terjadi dan juga dampak
yang muncul akibat adanya penutupan lokalisasi Dolly. Dampak ini juga berkaitan
langsung baik secara personal maupun tidak, utamanya yang terkait dengan
okupasinya.
Sambutan
sambutan oleh ustadz Ngadimen Wahab selaku takmir masjid at-taubah dan Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag selaku dosen mata kuliah ilmu dakwah.
1.
Sambutan pertama Ust. Ngadimen
Wahab (Pak Petruk) sebagai takmir Masjid At-Taubah.
Sejarah mengenai Masjid At-Taubah, dahulu
tahun 1987 ini adalah sebuah mushola. Dengan bertambahnya jama’ah mushola ini
dirubah menjadi masjid. Pada 17 februari 1989 tepat khutbah pertama disampaikan
dimasjid At-Taubah. Tahun 1990 pak petruk dituakan oleh masyarakat karena dapat
menyembuhkan orang orang sakit. Tahun 1970 sejak mondok pak petruk dipercaya kyai di pondok beliau untuk
mendoakan. Pak Petruk bersyukur dikarenakan dapat berdakwah melalui pengobatan.
Pak Petruk telah bergabung dengan dinas sosial yang disebut FORKEMAS (Forum
Komunikasi Elemen Masyarakat) sejak tahun 2008. Sekitar tahun 2008 pula, terdapat 53 lebih wisma dengan kurang lebih
5600 WTS (Wanita Tuna Susila). Pak Petruk yakin dalam surah Al mukmin : 60 yang
berbunyi “ud’uni astajib lakum”, artinya:
Berdoalah padaku, maka niscaya akan kukabulkan. Setelah 24 tahun
berdakwah Alhamdulillah pada tahun 2014 lokalisasi Dolly yang terkenal sebagai
lokalisasi terbesar di asia tenggara telah resmi ditutup oleh walikota Surabaya
ibu Tri Risma Harini pada kisaran bulan juni. “Semua ini terjadi atas kehendak
Allah” ujar pak Petruk. Pak petruk tak pernah lepas untuk berdoa dan
berikhtiar, bahkan setiap selasa malam rabu beliau mengajak jamaah untuk
membaca sholawat nariyah sebanyak 4444 kali. Berjuang yang paling pentinga dan
nomer satu adalah keihklasan dijalan Allah SWT. Semoga dengan adanya kegiatan
ini akan semakin memacu dan memotivasi mahasiswa untuk menjadikan bangsa Indonesia
iman,takwa kepada Allah SWT.
2.
Sambutan kedua oleh Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz M.Ag sebagai Dosen Ilmu Dakwah.
Saat ini tidak ada perempuan perempuan seperti yang dulu
lagi, tetapi bagaimana cara untuk menyemangati mereka para penduduk yang
mengandalkan tempat ini sebagai lapak dagang agar tidak sedih. Karena dahulu
tempat ini ramai sekarang menjadi sepi. Diharapkan masjid ini bukan hanya
sebagai tempat ibadah namun juga sebagai penggerak ekonomi. Dalam berdakwah
ditempat ini tidak cukup menggunakan dakwah bii lisan, namun dibutuhkan
pendekatan.
Materi materi yang disampaikan oleh beberapa
narasumber dari IDIAL MUI Jatim, Owner PT. Berkah Aneka Laut, dan mantan preman
lokalisasi.
1. Narasumber pertama oleh H. Sunarto
Sholahudin selaku Owner PT. Berkah Aneka laut (Bendahara Masjid Nurul Fatah)
BISNIS DAKWAH DAN IBADAH
Bapak
H. Sunarto Sholahudin merupakan bendahara masjid Nurul Fatttah sekaligus
pengusaha sukses pemilik perusahaan PT. Berkah Aneka Laut. Saat ini sudah
memiliki perusahaan perikanan laut berkualitas internasional dan memiliki
sekitar 50 kapal yang terletak di kota Probolinggo dan berpusat disurabaya,
Jawa Timur. Beliau inilah yang menjadi donator besar yang membantu memberikan
uang uang untuk menunjang perekonomian warga dolly dengan merubah bangunan
bangunan wisma menjadi tempat yang bisa digunakan untuk membuka usaha warga
pascaa penutupan lokalisasi dolly.
Perjalanan
terjal meraih kesuksesan telah dilalui oleh
beliau. Beliau percaya “Siapa yang bersungguh sungguh pasti akan
mendapatkannya (sukses)”. Berawal dari sebuah desa kecil ketika beliau masih
mengginjak bangku sekolah dasar tanpa malu dan rendah diri menjual gorengan
berkeliling desa. Karena himpitan ekonomi yang semakin menjadi, akhirnya beliau
memutuskan untuk merantau ke Surabaya. Melihat dari kegigihan almarhum kedua
orang tua beliau semakin memicu semangat untuk bangkit meraih mimpi besarnya
dikota Surabaya menjadi seorang pengusaha yang sukses. Pesan terus belajar
menjadi pemimpin yang tegas jangan mudah berputus asa dan mengeluh temui hal
hal yang baru dari kehidupan. Kejujuran dalam setiap perkataan adalah modal
pertama dalam meraih kesuksesan.
2. Narasumber kedua oleh Dr. H. A. Sunarto AS,
MEI selaku Doktor prostitusi IDIAL MUI Jawa Timur.
Rumah
di jalan Lasem 30-A itu terlihat sederhana. Begitu pula penghuninya, sama
sekali tak menonjolkan kemewahan. Padahal di balik hidup
sederhana yang dijalani bersama keluarganya, si pemilik rumah kelahiran 1959
itu salah satu pejuang pembebasan prostitusi di lokalisasi Bangunsari
Surabaya.
Dialah Dr H Sunarto AS M.E.I ketua umum
ikatan da’i area lokalisasi (idial), wadah para da’I dalam naungan Majelis
Ulama’ Indonesia Jatim yang menjadi garda terdepan dalam pembebasan area lokalisasi di Jawa Timur.
Pak Sunarto mengawali kegiatan dakwah di lokalisasi, khusunya Bangunsari pada 1981, setahun sepulangnya belajar dari Ponpes Tebu Ireng atau ketika masuk IAIN tingkat satu. Di awali ketika diserahi H Sholeh Piarin, salah satu tokoh di Bangunsari saat itu. “ Saya ngrintis ngajar ngaji saat menjadi ketua karang taruna di Jalan Lasem tingkat RT” Kenangnya.
Pak Sunarto mengawali kegiatan dakwah di lokalisasi, khusunya Bangunsari pada 1981, setahun sepulangnya belajar dari Ponpes Tebu Ireng atau ketika masuk IAIN tingkat satu. Di awali ketika diserahi H Sholeh Piarin, salah satu tokoh di Bangunsari saat itu. “ Saya ngrintis ngajar ngaji saat menjadi ketua karang taruna di Jalan Lasem tingkat RT” Kenangnya.
Hampir
dua tahun Sunarto berdakwah sendirian di Bangunsari. Baru pada 1983-1985 dia
mendapat pertner dari Kiai Khoiron yang merupakan kakak kelasnya di Tebuireng.
Di Bangunsari pengajian rutin digelar setiap jum’at dan dirintis sejak tahun
80-an. Namun sejak 2007-2008, dinas sosial mengajak kerjasama. Mereka
memprogramkan tak hanya di Bangunsari tapi di seluruh lokalisasi di Surabaya.
Beliau menyampaikan dakwah ada 3 yaitu menyeru,
mengajak dan merubah. Yang beliau gunakan dengan narasumber yang lain adalah
dakwah dengan metode merubah. Pada tahun 2002 beliau masih berdakwah secara
individu yaitu terhadap beberapa WTS di gedung RW. Kemudian meningkat menjadi
20 perwakilan WTS dari beberapa lokalisasi di Surabaya yang dilaksanakan di
asrama haji selama bulan ramadhan.
3. Narasumber ketiga oleh KH. Drs. Khoiron
Syuaib selaku Kiai Prostitusi IDIAL MUI Jawa Timur.
Kiai
Khoiron begitulah masyarakat menyebutnya merupakan Kiai Prostitusi terkenal di Surabaya.
Kiai Khoiron adalah anak dari pasangan Syu’aib bin Kia Asim dan Hj. Muntayyah
binti kiai Mu’assan. Kiai Khoiron bukanlah warga asli Dupak melainkan seorang
pendatang. Kedua orangtuanya dulu tinggal di jalan Maspati Gang IV Surabaya,
disana orangtuanya membuka usahah makanan. Karena hasilnya selalu tak cukup
untuk memnuhi kebutuhan hidup, orangtua kiai Khoiron pindah di kelurahan Dupak,
Bangunsari, Surabaya. Ditempat inilah kiai Khoiron dibesarkan.
Orangtua
kiai Khoiron tak ingin anaknya tumbuh di tempat prostitusi. Karena itu ia
dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Kemudian Kiai Khoiron
melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah
mendapat banyak ilmu agama, kiai Khoiron pulang kampung. Maraknya prostitusi di
Dupak Bangunsari ia menjadi prihatin dengan kondisi kampungnya,
karena itu ia berdakwah di tempat lokalisasi meski awalnya sempat pesimis.
Beliau lantas menjadi buah bibir masyarakat Kota Surabaya karena berdakwah di
tempat-tempat lokalisasi.
Berkat
kegigihannya, dakwahnya mulai diterima kalangan PSK. Ia kemudian mendirikan
sebuah Pondok Pesantren Roudlotul Khoir di Bangunsari sebagai pusat dakwah.
Seiring berjalannya waktu, Kiai Khoiron sampai dikenal sebagai “ Kiai nya para
WTS dan Mucikari ”. Mendapat sebutan itu, kiai khoiron tidak mempersoalkannya.
Beliau inilah yang juga membantu Ustad Gatot mantan preman untuk berhijrah.
Kiai Khoiron Syuaib
menyampaikan 4 faktor peranan di lokalisasi dolly yang sangant berpengaruh :
a. PSK atau WTS
b. Mucikari
c. Ketua RT/RW
d. Orang orang baik didaerah lokalisasi
4.
Narasumber keempat oleh H. Gatot Subiantoro selaku Mantan Preman Lokalisasi dan IDIAL MUI Jatim
Bapak H. Gatot Subiantoro yang biasa
dikenal dengan Gatot/ pak Gatot merupakan bagian HUMAS IDEAL MUI Jatim yang
dulunya merupakan seorang Preman lokalisasi di Dolly. Sebagai preman tak sulit baginya untuk mengumpulkan uang banyak. Apalagi di lokalisasi
Dolly ia dikenal sebagai preman yang mempunyai pengaruh besar. “ Kalau masalah
uang itu dating sendiri dari hiburan malam waktu itu, kana da yang pegang
sendiri masing-masing blok dan kalau ada yang membuat rusuh saya yang terjun.
Satu tempat hiburan bayarannya bulanan ada juga yang mingguan/ harian dan
banyak yang saya pegang tempat hiburan di lokalisasi” ujarnya.
Pak Gatot menggeluti dunia preman sejak
1984 dan sudah kurang lebih 20 tahun menjadi preman ia tidak pernah kepikiran
untuk hijrah karena ia sudah putus asa waktu melamar kerja setelah lulus SMA
kemana mana tidak diterima, sudah mengikuti berbagai tes dimanapun bahkan juga di beberapa Perguruan Tinggi tapi tetap saja tidak ada yang
menerimanya padahal pak Gatot mempunyai nilai yang cukup tinggi kala itu.
Akhirnya beliau ikut-ikutan temannya nongkrong dan minum-minum hingga akhirnya
ia menjadi preman jalanan dari satu lokalisasi ke lokalisasi yang lain.
Keluarga nya pun sebenarnya sudah jenuh melihat ulah Pak Gatot tetapi tidak ada
hal lagi yang dapat merubahnya.
Hingga pada akhirnya Pak Gatot bertemu
dengan orang-orang yang tulus memandangnya sebelumnya semua orang
mencemoohnya “ Di bilang saya mencela dan menghina padahal saya tidak pernah maling atau merampok punya dia” ujar pak Gatot dengan
logat Surabaya nya yang khas. Tepatnya pada tahun 2001, pak Gatot mendapat
hidayah untuk bertaubat. Wasilah taubat ini dating dari seorang da’I bernama
Khoiron Syu’aib, yang terkenal di Surabaya sebagai da’I spesialis daerah
prostitusi.
“ Saya ingat ketika itu Kiai Khoiron dating saat saya sedang mabuk, beliau datang tidak untuk menceramahi
saya, tapi justru membawa sebungkus berkat (makanan)” ungkap pak Gatot.
Pendekatan halus yang dilakukan Kiai Khoiron Syu’aib akhirnya membuatnya
luluh, karena ia merasa bosan selalu di kasih berkat (makanan) oleh kiai
khoiron. “ Lama-lama saya merasa kok saya dikasih berkat terus terusan saya
jadi mblenger (bosan)” tegasnya sambil tertawa. Perlahan tapi pasti akhirnya
pak Gatot mulai meninggalkan dunia kemaksiatannya.
Dari pengalamannya sebagai preman yang mendapat hidayah, pak Gatot berpesan bahwa pergaulan dapat menentukan baik buruknya seseorang “ Bergaul dengan orang baik kita ketularan baik, begitu juga sebaliknya” katanya.beliau juga selalu mengingat pesan dari Kiai khoiron bahwa kekayaan dan kemiskinan tiada habisnya tetapi umur kita ada habisnya yang menjadi motto hidupnya sampai saat ini. Setelah keluar dari dunia maksiat ia sempat bekerja di sebuah showroom jual beli mobil di Surabaya sampai pada akhirnya ia di angkat bekerja di MUI Jatim masyaallah.
Dari pengalamannya sebagai preman yang mendapat hidayah, pak Gatot berpesan bahwa pergaulan dapat menentukan baik buruknya seseorang “ Bergaul dengan orang baik kita ketularan baik, begitu juga sebaliknya” katanya.beliau juga selalu mengingat pesan dari Kiai khoiron bahwa kekayaan dan kemiskinan tiada habisnya tetapi umur kita ada habisnya yang menjadi motto hidupnya sampai saat ini. Setelah keluar dari dunia maksiat ia sempat bekerja di sebuah showroom jual beli mobil di Surabaya sampai pada akhirnya ia di angkat bekerja di MUI Jatim masyaallah.
D.
Kesan pesan mengikuti kuiah lapangan
1. Alhamdulillah dengan mengikuti kuliah lapangan ini
saya bisa mengetahui perjuangan untuk menutuo dolly.
2. Saya mengetahui dunia bisnis dan perjuangan keras dari
H. Sunarto Sholahudin yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi saya.
3. Dapat mengetahui metode dakwah yang digunakan untuk
mengajak menjadi yang lebih baik.
4. Dapat megenal para mubaligh pejuang yang banyak
berkontribusi pada dolly.
5. Ilmu dan pelajaran hidup yang banyak untuk bekal saya
nanti.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar